Menyesali perbuatan dosa yang pernah dilakukannya.
Penyesalan memberikan tekad, kemahuan dan pengetahuan kepada pelakunya bahwa kemaksiatan yang dilakukannya tersebut akan menjadi penghalang dari Rabbnya, lalu ia bersegera mencari keselamatan dan tidak ada jalan keselamatan dari adzab Allah kecuali berlindung kepadaNya, sehingga muncullah taubat dalam dirinya. Oleh karena itu tidak terwujud taubat kecuali dari penyesalan, sebab tidak menyesali perbuatannya adalah dalil keridhoan terhadap kemaksiatan tersebut, seperti disabdakan Rasulullah SAW dengan maksudnya : “Penyesalan adalah taubat.”
Berlepas dan meninggalkan perbuatan dosa tersebut
Apabila kemaksiatannya adalah pelanggaran larangan Allah dan bila kemaksiatannya berupa meninggalkan kewajiban maka cara meninggalkan perbuatan dosanya adalah dengan melaksanakannya. Ini termasuk syarat terpenting taubat. Dalilnya adalah firman Allah:
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah – Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengatahui.” (Qs. Al Imran:135)
Al Fudhail bin Iyaadh menyatakan: “Istighfar tanpa meninggalkan kemaksiatan adalah taubat para pendusta.”
Bersungguh-sungguh dalam meninggalkan dosa dan bertaubat.
Rahsiakan perbuatan dosa dari rakankerana menceritakan perbuatan dosa dan berbangga pula dengannya merupakan dosa besar di sisi Allah Taala.
Semua anak Adam itu melakukan kesalahan (dosa). Sebaik-baik mereka itu ialah yang bertaubat di atas dosanya.
Penyesalan memberikan tekad, kemahuan dan pengetahuan kepada pelakunya bahwa kemaksiatan yang dilakukannya tersebut akan menjadi penghalang dari Rabbnya, lalu ia bersegera mencari keselamatan dan tidak ada jalan keselamatan dari adzab Allah kecuali berlindung kepadaNya, sehingga muncullah taubat dalam dirinya. Oleh karena itu tidak terwujud taubat kecuali dari penyesalan, sebab tidak menyesali perbuatannya adalah dalil keridhoan terhadap kemaksiatan tersebut, seperti disabdakan Rasulullah SAW dengan maksudnya : “Penyesalan adalah taubat.”
Berlepas dan meninggalkan perbuatan dosa tersebut
Apabila kemaksiatannya adalah pelanggaran larangan Allah dan bila kemaksiatannya berupa meninggalkan kewajiban maka cara meninggalkan perbuatan dosanya adalah dengan melaksanakannya. Ini termasuk syarat terpenting taubat. Dalilnya adalah firman Allah:
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah – Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengatahui.” (Qs. Al Imran:135)
Al Fudhail bin Iyaadh menyatakan: “Istighfar tanpa meninggalkan kemaksiatan adalah taubat para pendusta.”
Bersungguh-sungguh dalam meninggalkan dosa dan bertaubat.
Rahsiakan perbuatan dosa dari rakankerana menceritakan perbuatan dosa dan berbangga pula dengannya merupakan dosa besar di sisi Allah Taala.
Semua anak Adam itu melakukan kesalahan (dosa). Sebaik-baik mereka itu ialah yang bertaubat di atas dosanya.

No comments:
Post a Comment